Phil Foden memuji berbagai penyesuaian yang dilakukan Enzo Maresca terhadap skema permainan Manchester City selama pramusim. Bagi gelandang kreatif asal Inggris tersebut, kehadiran Maresca menjadi awal yang segar setelah sekian lama ia hanya mengenal gaya kepelatihan Pep Guardiola. Foden bahkan menyebut bahwa semua perubahan yang ia rasakan sejauh ini terasa positif dan cocok dengan karakter tim.
Maresca memang punya tugas berat menggantikan Guardiola di Etihad Stadium. Pasalnya, pelatih asal Spanyol itu mengakhiri masa baktinya selama satu dekade dengan koleksi 20 trofi bersama The Citizens. Standar yang ditinggalkan Guardiola jelas sangat tinggi, sehingga siapa pun penerusnya dituntut untuk langsung memberikan hasil.
Foden Puji Perubahan Maresca
Dalam wawancaranya, Foden mengungkapkan bahwa dirinya menikmati suasana latihan dan pendekatan baru yang dihadirkan tim pelatih anyar. Ia menilai perubahan yang dilakukan Maresca, terutama dalam hal organisasi pertahanan dan cara membangun serangan dari lini belakang, terasa berbeda namun tetap nyaman bagi para pemain. Foden pun tak ragu menyebut bahwa ide-ide segar ini bisa membawa dampak positif bagi performa tim musim depan.
“Saya rasa ini bagus, jujur saja. Yang saya tahu selama ini hanya Pep Guardiola, jadi ini awal yang segar,” ujar Foden, yang baru saja menandatangani kontrak baru berdurasi empat tahun dengan City bulan lalu. “Saya menikmati staf pelatih baru, cara kami bermain, dan hal-hal yang kami lakukan di latihan. Saya sangat antusias menyambut musim ini dan semoga kami bisa menjalani tahun yang baik.”
Foden juga membeberkan sedikit perubahan yang ia rasakan di lapangan. “Saya tidak ingin memberi tahu terlalu banyak soal cara kami bermain, tapi mungkin cara bertahan sedikit berbeda dengan bagaimana kami menempatkan diri. Kami punya ide berbeda tentang cara membangun serangan dari belakang, dengan beragam variasi saat memegang bola. Menurut saya para pemain sangat nyaman karena kami ingin bermain dari belakang dan mencoba menciptakan peluang, jadi ini cocok untuk semua orang.”
Warisan Guardiola dan Perjalanan Foden di City
Guardiola merupakan satu-satunya pelatih yang pernah menangani Foden sepanjang karier klubnya. Mantan bos Barcelona itulah yang memberikan debut tim senior kepada Foden pada 2017. Selama hampir satu dekade di bawah asuhan Guardiola, Foden berkembang menjadi salah satu gelandang paling produktif di Premier League.
Catatan statistik menunjukkan betapa dominannya peran Foden di era Guardiola. Ia telah tampil sebanyak 369 kali di bawah pelatih asal Catalan tersebut, sebuah angka yang hanya kalah dari tiga pemain berikut. Ketiganya merupakan pilar utama City yang menjadi andalan di era kejayaan Guardiola.
- Bernardo Silva: 460 penampilan
- Kevin De Bruyne: 381 penampilan
- Ederson: 372 penampilan
Menariknya, jumlah penampilan Foden itu lebih dari 150 pertandingan dibandingkan Lionel Messi yang hanya 204 kali bermain di bawah Guardiola saat di Barcelona. Hal ini menunjukkan seberapa besar kepercayaan Guardiola kepada Foden sepanjang kariernya di Manchester City. Tidak banyak pemain muda yang mendapat menit bermain sebanyak itu dari seorang pelatih sebesar Guardiola.
Produktivitas Foden dalam Angka
Dari sisi produktivitas, Foden mencatatkan 21 kontribusi gol di semua kompetisi pada musim 2025-26, dengan rincian 13 gol dan delapan assist. Capaian ini meningkat dibandingkan musim 2024-25 yang hanya 15 kontribusi gol. Namun, angka tersebut masih di bawah torehan empat musim sebelumnya sekaligus menjadi pekerjaan rumah yang harus diperbaiki Foden.
Dengan kontrak baru dan semangat segar, Foden mengincar musim 2026-27 yang jauh lebih baik. Ia percaya ide-ide baru dari Maresca bisa menjadi kunci kebangkitan performanya bersama Manchester City. Apalagi, dukungan penuh dari staf pelatih anyar membuatnya semakin percaya diri menyambut musim kompetisi yang baru.
Peran Foden di Bawah Kepemimpinan Maresca
Ketika ditanya apakah ia sudah meminta jaminan dari Maresca soal perannya di tim, Foden mengaku pembicaraan tersebut belum terjadi. Ia menyadari apa yang diinginkan pelatih asal Italia itu darinya saat ini, yakni menjadi teladan bagi para pemain muda selama tur pramusim. Meski belum ada diskusi formal, Foden mengaku siap menjalankan peran apa pun yang diminta pelatih.
“Kami sebenarnya belum melakukan diskusi seperti itu,” kata Foden. “Tapi saya rasa yang dia inginkan dari saya adalah berusaha menjadi contoh bagi para pemain muda dalam tur ini, berlatih dengan sungguh-sungguh, tetap fokus, dan bekerja keras.” Foden pun menunjukkan komitmennya dengan tampil penuh semangat di setiap sesi latihan bersama tim.
Foden memang tampil selama 70 menit saat City bermain imbang 1-1 melawan Inter Milan dalam laga persahabatan pekan lalu. City akhirnya harus mengakui keunggulan Inter lewat adu penalti sebelum melanjutkan tur pramusim. Laga berikutnya dalam tur Asia ini adalah menghadapi K-League All-Star XI pada Rabu.
Elliot Anderson: Rekrutan Anyar yang Dinanti Foden
Satu pemain yang belum tampil di pramusim City adalah Elliot Anderson. Ia bergabung dari Nottingham Forest dengan nilai transfer mencapai 116 juta poundsterling, setelah membantu timnas Inggris meraih posisi ketiga di Piala Dunia. Menariknya, Foden justru tidak masuk dalam skuad Thomas Tuchel untuk turnamen final tersebut, meski sebelumnya ia sempat bermain bersama Anderson di timnas Inggris.
Meski demikian, Foden mengaku sangat menantikan kesempatan bermain bersama Anderson di level klub. “Saya sangat senang dia bergabung dengan klub ini,” ungkapnya. “Saat saya menonton atau bermain melawannya, dia adalah pemain yang suka mencari nomor 10 dan melepaskan bola-bola terobosan. Saya rasa itu sangat cocok dengan gaya saya. Saya antusias bermain bersamanya.”
Prospek Manchester City Musim 2026-27
Pujian Foden terhadap pendekatan Maresca bukan tanpa alasan. Kedatangan Maresca membawa angin segar bagi skuad City yang sebagian besar pemainnya sudah sangat terbiasa dengan filosofi Guardiola. Kombinasi antara ide baru dari Maresca dengan kualitas pemain seperti Foden dan Anderson bisa menjadi modal berharga untuk bersaing di semua ajang musim 2026-27.
Apalagi, para pemain mengaku nyaman dengan pendekatan anyar yang tetap mengedepankan permainan menyerang dari lini belakang. Foden, yang kini memasuki usia emas sebagai pemain, tampaknya siap mengambil peran lebih besar. Dengan dukungan rekrutan anyar seperti Anderson, bukan tidak mungkin The Citizens tetap menjadi kekuatan dominan di Inggris dan Eropa meski tanpa Guardiola.
Perubahan memang selalu menghadirkan tantangan, tetapi Foden memandangnya sebagai peluang untuk berkembang lebih jauh. Dengan semangat baru dari Maresca, skuad yang solid, dan rekrutan berkualitas seperti Anderson, Manchester City siap membuka babak baru. Akankah mereka mampu mempertahankan dominasi di tengah persaingan yang semakin ketat? Musim 2026-27 akan menjadi jawabannya.
