Dakwaan yang dihadapi Manchester City dari Premier League memunculkan satu pertanyaan yang sering dilontarkan publik: mengapa klub itu tidak bisa mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga atau Court of Arbitration for Sport (CAS)? Jawabannya bukan terletak pada berat atau ringannya perkara, melainkan pada aturan main yang sudah disepakati. Ada kesepakatan antarklub Liga Primer bahwa setiap sengketa yang melibatkan liga beserta klub-klubnya harus diselesaikan di Inggris dan Wales, dengan hukum Inggris sebagai landasannya.
Konsekuensinya, CAS tidak punya kewenangan untuk ikut campur dalam perkara seperti dakwaan terhadap Manchester City. Padahal lembaga yang berbasis di Swiss itu merupakan rujukan paling umum ketika sengketa olahraga membutuhkan penyelesaian hukum. Setiap tahunnya, lebih dari 900 perkara dari lebih dari 50 cabang olahraga masuk ke meja CAS, mulai dari persoalan kontrak hingga doping. Karena itu, memahami cara kerja CAS sekaligus memahami batas kewenangannya menjadi penting untuk membaca kasus Man City secara utuh.
Mengenal Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS)
CAS adalah badan hukum yang bertugas menyelesaikan sengketa olahraga yang membutuhkan penyelesaian secara legal. Penyelesaian perkara dilakukan oleh panel independen berisi arbiter terakreditasi, yakni para pakar hukum yang ditunjuk oleh kedua pihak yang berselisih untuk menemukan solusi. Panel inilah yang memeriksa perkara, menimbang argumen masing-masing pihak, lalu menjatuhkan putusan yang mengikat.
Sengketa yang masuk ke CAS tidak melulu soal doping atau sanksi terhadap klub. Banyak di antaranya menyangkut tata kelola organisasi, persoalan kontrak, hingga pelanggaran disiplin. Karena luasnya cakupan itu, CAS sering dipandang sebagai titik akhir peradilan olahraga ketika mekanisme internal sebuah federasi dianggap tidak lagi cukup atau tidak mampu menyelesaikan perselisihan.
Markas CAS berada di Swiss, tepatnya di Lausanne. Meski begitu, lembaga ini juga mengerahkan tim yang bertugas langsung di lokasi untuk ajang tertentu. Cara kerja seperti ini membuat CAS bisa hadir secara fisik di tengah-tengah event besar, bukan hanya menunggu perkara masuk ke kantornya.
Ragam Sengketa yang Ditangani CAS
Cakupan kerja CAS sangat lebar dan menyentuh hampir semua sisi industri olahraga. Beberapa jenis perkara yang biasa ditangani lembaga ini antara lain:
- kontrak kerja
- sponsor
- hak siar televisi
- penyelenggaraan event olahraga
- transfer pemain
- pelanggaran doping
- kekerasan di lapangan
- pengaturan pertandingan atau match fixing
- pelanggaran aturan etika
- korupsi
- isu safe sport atau perlindungan atlet
- pemilihan dan aturan masa jabatan pengurus federasi
- statuta federasi olahraga
- pengakuan badan olahraga nasional maupun regional
Daftar itu memperlihatkan bahwa CAS tidak hanya mengurus pelanggaran yang terjadi di lapangan. Perkara bernilai ekonomi tinggi seperti hak siar, sponsor, dan transfer pemain juga menjadi bagian dari pekerjaannya. Begitu pula persoalan struktural, misalnya keabsahan pemilihan pengurus federasi atau pengakuan sebuah badan olahraga di tingkat nasional dan regional.
Luasnya wewenang tersebut menjelaskan mengapa CAS hampir selalu muncul dalam kontroversi besar dunia olahraga. Ketika dua pihak tidak lagi sepakat soal aturan, statuta, atau hasil pertandingan, CAS menjadi tempat mereka mencari kepastian.
Kasus-Kasus Besar yang Ditangani CAS
Salah satu perkara paling menyita perhatian dalam beberapa tahun terakhir adalah kontroversi final Piala Afrika (Afcon) 2025. Konfederasi Sepak Bola Afrika (Caf) memutuskan untuk membatalkan hasil pertandingan final, sehingga Maroko dinyatakan sebagai juara meski kalah dari Senegal di laga puncak. Menanggapi keputusan itu, Senegal mengumumkan akan mengajukan banding ke CAS.
Manchester City sendiri sebenarnya punya pengalaman panjang dengan lembaga ini. Pada Juli 2020, larangan dua tahun tampil di kompetisi Eropa yang dijatuhkan kepada klub tersebut dibatalkan oleh CAS. Namun, pembatalan itu terjadi pada perkara berbeda, dan tidak otomatis membuat klub berjuluk The Citizens itu bisa menempuh jalur yang sama untuk dakwaan yang kini mereka hadapi.
Di ajang Olimpiade, peran CAS juga sangat terlihat. Pada Olimpiade Musim Dingin 2026, salah satu kisah terbesar muncul ketika atlet skeleton Ukraina, Vladyslav Heraskevych, dilarang bertanding oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC). Larangan itu diberikan karena ia memakai helm bergambar atlet-atlet Ukraina yang tewas dalam invasi Rusia ke negaranya. Heraskevych mengajukan banding ke CAS, dan sidang ad-hoc darurat yang digelar di tengah berlangsungnya Olimpiade memutuskan menolak kasusnya.
Contoh lain menunjukkan perkara di CAS bisa berlarut-larut bertahun-tahun. Pada Olimpiade Musim Dingin 2022, medali emas tim seluncur indah Rusia diturunkan menjadi perunggu oleh International Skating Union setelah atlet Kamila Valieva dijatuhi sanksi antidoping. Rusia mengajukan banding ke CAS, tetapi pada Juli 2024 banding tersebut ditolak. Sementara itu, pesenam Amerika Serikat Jordan Chiles masih berpeluang mendapatkan kembali medali perunggunya dari Olimpiade Paris 2024, karena CAS terus memeriksa bukti bahwa ia mengajukan keberatan atas skornya dalam batas waktu yang sah.
Mengapa Banding Man City Tidak Bisa Dibawa ke CAS?
Kunci persoalannya ada pada kesepakatan antarklub Liga Primer. Melalui kesepakatan itu, semua perkara yang melibatkan liga dan klub-klubnya harus dijalankan di Inggris dan Wales serta mengikuti hukum Inggris. Karena CAS berkedudukan di Lausanne, Swiss, lembaga tersebut tidak diizinkan menangani perkara seperti dakwaan terhadap Manchester City.
Sebagai gantinya, Premier League memiliki panel arbitrase sendiri yang dapat mendengar perkara berdasarkan sejumlah faktor terbatas sebagai titik perselisihan terakhir. Dasar aturan ini tercantum dalam bagian W97 dan X.2.4 buku panduan Premier League. Dengan kata lain, jalur banding tidak berhenti pada ketiadaan upaya hukum, melainkan dialihkan ke mekanisme domestik yang sudah disepakati bersama.
Kesepakatan serupa juga berlaku bagi klub-klub di English Football League (EFL). Artinya, persoalan hukum di kompetisi Championship, League One, dan League Two pun harus diselesaikan di dalam negeri, bukan dibawa ke forum arbitrase internasional.
Konteks Lebih Luas: Kecepatan Putusan dan Implikasinya
Pada event seperti Olimpiade musim panas dan musim dingin, CAS menyiapkan tim yang bersiaga di lokasi agar sengketa bisa ditangani secepat mungkin. Kecepatan ini penting karena jadwal pertandingan tidak bisa menunggu proses hukum yang panjang. Kasus Heraskevych pada 2026 menjadi contohnya: sidang ad-hoc darurat digelar dan kasusnya ditolak selama gelaran berlangsung, sehingga kompetisi tetap bisa berjalan sesuai jadwal.
Namun, tidak semua perkara bisa diselesaikan dalam hitungan hari. Sebagian justru memakan waktu bertahun-tahun, seperti yang terjadi pada sengketa medali emas tim seluncur indah Rusia yang baru tuntas pada 2024. Perbedaan tempo ini memperlihatkan dua wajah CAS sekaligus: sebagai pemadam kebakaran di tengah event besar, dan sebagai pengadilan yang prosesnya bisa panjang ketika perkara menyangkut sanksi berat atau sengketa teknis yang rumit.
Bagi atlet, klub, dan federasi, arti penting CAS bukan hanya soal menang atau kalah. Keputusan lembaga ini menentukan apakah seseorang boleh bertanding, apakah sebuah medali dipertahankan atau dicabut, dan bagaimana aturan federasi diterapkan secara konsisten. Karena itu, semakin besar nilai komersial dan reputasi yang dipertaruhkan dalam sebuah perkara, semakin besar pula kemungkinan sengketa berakhir di meja arbitrase.
Di sisi lain, kasus Manchester City memperlihatkan bahwa keberadaan CAS tidak lantas membuat semua sengketa bisa dibawa ke sana. Kesepakatan antaranggota sebuah liga dapat membatasi forum mana yang berwenang, dan pembatasan itu sepenuhnya sah selama disepakati oleh pihak-pihak yang terlibat.
Kesimpulan
CAS adalah pengadilan arbitrase olahraga yang menangani lebih dari 900 perkara per tahun dari lebih dari 50 cabang olahraga, dengan panel independen berisi arbiter terakreditasi sebagai pengambil keputusan. Sejarahnya mencakup perkara sebesar banding Senegal atas hasil final Afcon 2025, larangan tampil Manchester City di kompetisi Eropa pada 2020, hingga sengketa medali di Olimpiade musim panas dan musim dingin.
Meski demikian, CAS bukan tujuan banding untuk semua kasus. Kesepakatan antarklub Liga Primer memastikan perkara yang melibatkan liga dan klubnya diselesaikan di Inggris dan Wales sesuai hukum Inggris, dengan panel arbitrase internal Premier League sebagai jalur terakhir. Itulah alasan mengapa dakwaan terhadap Manchester City tidak bisa dibawa ke Lausanne, sekaligus pengingat bahwa dalam dunia olahraga, kewenangan sebuah lembaga peradilan selalu ditentukan oleh kesepakatan yang melandasi kompetisi itu sendiri.
