Kebangkitan Thierno Barry di Everton, dari Buruk ke Pahlawan

Author:

Kebangkitan Thierno Barry menjadi salah satu cerita menarik di Everton musim ini. Penyerang asal Prancis itu kembali mencetak gol saat Everton meraih kemenangan layak atas Newcastle di St James’ Park pada lanjutan Premier League. Gol tersebut merupakan gol keduanya ke gawang Newcastle dalam lima hari dan menjadi bukti bahwa ia kini jauh lebih produktif dibanding musim debutnya.

Musim lalu, Barry hanya mencetak delapan gol dalam 41 penampilan. Musim ini, ia butuh 12 pertandingan untuk menyamai jumlah tersebut. Setelah datang dari Villarreal pada musim panas lalu dengan banderol £27 juta, pemain 24 tahun ini sempat mengalami awal yang sulit di Merseyside. Namun, dengan Beto pindah ke Fiorentina, Barry kini menjadi satu-satunya striker senior yang diakui di Everton, sehingga performanya menjadi sangat penting bagi The Toffees.

Kebangkitan Thierno Barry di Everton Mulai Terlihat

Gol ke gawang Newcastle menjadi sorotan karena terjadi di momen yang tepat. Di antara pemain Premier League, hanya Erling Haaland dengan 13 gol yang mencetak lebih banyak gol di semua kompetisi musim ini daripada Barry yang mengoleksi delapan gol. Statistik itu menempatkan Barry sebagai salah satu penyerang paling produktif di Inggris musim ini, meski namanya tidak selalu menjadi pembicaraan utama. Bagi Everton, kontribusi tersebut memberi dampak langsung karena tim membutuhkan sosok yang bisa menyelesaikan peluang.

Barry juga menunjukkan perubahan dari sisi mental dan kesiapan. Ia mengaku bekerja keras selama musim panas dan hasilnya mulai terlihat di lapangan. “Saya bekerja banyak selama musim panas dan sekarang kami bisa melihat hasilnya,” kata Barry kepada Sky Sports. Ia menambahkan bahwa musim masih panjang, tetapi ia senang bisa membantu tim dengan gol-golnya.

Perayaan golnya melawan Newcastle turut menjadi simbol kebangkitan. Barry memulai perayaan dengan knee slide dan mengakhirinya dengan gerakan dansa. Ia menyebut ingin menikmati musim ini lebih dari musim lalu, termasuk momen selebrasinya. Kontras dengan video yang ia unggah bulan lalu, ketika ia tampil emosional dalam sesi latihan privat musim lalu, perayaan itu menunjukkan bahwa ia kini lebih percaya diri.

Dari Awal Sulit ke Status Striker Utama

Awal karier Barry di Everton tidak berjalan mulus. Dalam 16 pertandingan pertamanya bersama Everton, ia hanya mencatatkan satu tembakan. Angka itu menjelaskan mengapa musim debutnya disebut sebagai mimpi buruk, terutama bagi striker yang didatangkan dengan ekspektasi besar. Tekanan bertambah karena Everton mengeluarkan £27 juta untuk merekrutnya dari Villarreal.

Barry tumbuh dengan menonton Wayne Rooney dan Romelu Lukaku mencetak gol untuk Everton. Latar belakang itu membuat kepindahannya ke Merseyside terasa istimewa, tetapi juga membawa beban harapan. Publik Everton tentu ingin melihat striker baru yang bisa meneruskan tradisi penyerang produktif di klub. Karena itu, masa adaptasi yang sulit menjadi ujian tersendiri baginya.

Situasi berubah ketika Beto pindah ke Fiorentina. Everton pun tidak memiliki striker senior lain yang diakui, sehingga Barry menjadi pilihan utama di lini depan. Kondisi ini memberi Barry kesempatan lebih besar untuk bermain reguler dan membangun ritme. Di sisi lain, status itu juga berarti ia harus siap menanggung kritik ketika gagal memanfaatkan peluang.

Statistik Peluang Besar dan Kritik Finishing

Di Premier League, Barry memimpin dalam proporsi keterlibatan paling tinggi terhadap peluang besar timnya. Sebelum pertandingan melawan Newcastle, Everton mencatatkan 24 peluang besar, dan Barry terlibat dalam 15 di antaranya atau 62,5 persen. Angka itu menunjukkan bahwa alur serangan Everton banyak bergantung pada pergerakan dan posisi Barry di kotak penalti.

Meski begitu, Barry sering dikritik karena dianggap boros di depan gawang. Dalam laga melawan Newcastle, ia sempat menerima bola dari flick-on Jarrad Branthwaite, tetapi koneksinya kurang sempurna saat berhadapan dengan peluang. Tembakannya tidak bersih, dan momen itu menjadi contoh mengapa kritik terhadap finishing-nya masih muncul.

Golnya malam itu justru lahir dari peluang yang sangat mudah. Barry mencetak gol tap-in dari jarak dua yard, situasi yang memiliki xG sangat tinggi, yaitu 0,995. Artinya, peluang tersebut nyaris mustahil gagal dikonversi menjadi gol. Namun, kemampuan Barry untuk tetap berada di posisi tepat menunjukkan sisi lain yang penting bagi seorang striker: insting dan ketenangan untuk menyelesaikan peluang sederhana.

Jamie Carragher, mantan bek Liverpool dan Inggris, mengakui bahwa Barry masih melewatkan peluang. Namun, ia juga menekankan bahwa musim ini Barry terus berusaha dan mencetak gol. “Kami tahu Barry melewatkan peluang, tetapi kami juga tahu musim ini dia terus berusaha dan mencetak gol,” kata Carragher kepada Sky Sports. David Moyes menambahkan bahwa Everton senang Barry mulai mencetak gol karena tim memang membutuhkan striker tengah yang produktif.

Kontroversi Gol dan Dampaknya bagi Everton

Gol Barry ke gawang Newcastle tidak lepas dari kontroversi. Manajer Newcastle, Matthias Jaissle, mengatakan kepada BBC Sport bahwa ada “pelanggaran jelas terhadap Fabian Schar” dalam proses terjadinya gol. Pernyataan itu menunjukkan bahwa kemenangan Everton dan gol Barry tetap menyisakan perdebatan, terutama bagi kubu tuan rumah.

Bagi Everton, kontroversi tersebut tidak mengurangi nilai kemenangan. Tim meraih hasil positif yang layak di St James’ Park, dan gol Barry menjadi penentu penting. Dalam konteks performa individu, gol itu menegaskan bahwa Barry mampu tampil sebagai pembeda di laga besar, meski kritik terhadap aspek permainannya belum sepenuhnya hilang.

Dampaknya bagi Everton cukup jelas: Barry semakin kokoh sebagai striker utama. Dengan hanya dia sebagai striker senior yang diakui setelah kepergian Beto, Everton perlu menjaga kondisi dan kepercayaan diri Barry. Jika ia terus mencetak gol, beban serangan tim akan lebih terdistribusi dan peluang Everton untuk meraih hasil positif semakin besar.

Konteks Lebih Luas: Momentum dan Tantangan Berikutnya

Kebangkitan Thierno Barry sejalan dengan tren striker muda yang butuh waktu untuk beradaptasi di Premier League. Tidak sedikit penyerang datang dengan harga tinggi, lalu mengalami kesulitan pada musim pertama sebelum menemukan ritme. Bagi Barry, perbandingan dengan musim lalu menunjukkan kemajuan yang nyata: dari delapan gol dalam 41 laga menjadi delapan gol dalam 12 laga.

Namun, tantangan berikutnya adalah konsistensi. Premier League memiliki tingkat kompetisi yang tinggi, dan lawan akan semakin memperhatikan pergerakan Barry. Jika Everton terus menciptakan peluang besar, Barry perlu meningkatkan efisiensi penyelesaian akhir agar kritik soal pemborosan peluang tidak terus membayangi. Di saat yang sama, dukungan dari rekan setim dan kepercayaan manajer akan menjadi faktor penting.

Posisi Everton sebagai klub yang ingin berkembang juga membuat performa Barry punya arti lebih luas. Gol-golnya bukan hanya soal statistik pribadi, tetapi juga tentang bagaimana tim memanfaatkan peluang dan menjaga daya saing. Jika tren ini berlanjut, Barry bisa mengubah narasi dari striker yang gagal beradaptasi menjadi striker utama yang menemukan bentuk terbaiknya.

Kebangkitan Thierno Barry menunjukkan bahwa awal yang buruk tidak selalu menentukan akhir sebuah cerita. Dari musim debut yang nyaris tanpa tembakan berarti, ia kini menjadi salah satu penyerang yang mulai diperhitungkan di Everton. Kontroversi gol melawan Newcastle dan kritik terhadap finishing tetap ada, tetapi gol-golnya memberi Everton sesuatu yang dibutuhkan: penyelesai di lini depan.

Jika Barry mampu menjaga konsistensi, musim ini bisa menjadi titik balik kariernya di Merseyside. Everton pun mendapat alasan untuk percaya bahwa investasi £27 juta mereka mulai membuahkan hasil. Pada akhirnya, kebangkitan Thierno Barry bukan hanya tentang angka gol, tetapi juga tentang mentalitas untuk bangkit setelah awal yang sulit.