Tuchel Waspadai Ancaman Haaland, Inggris Cari Identitas Lawan Norwegia

Author:

Tuchel dan Kenangan Buruk Bersama Haaland

Thomas Tuchel mengingat dengan jelas betapa merepotkannya Erling Haaland. Pelatih timnas Inggris ini pernah berjumpa dengan striker Norwegia itu di berbagai kesempatan, mulai dari masa Tuchel menangani Paris Saint-Germain hingga Bayern Munich. Saat di PSG, Haaland mencetak dua gol untuk Borussia Dortmund di leg pertama babak 16 besar Liga Champions 2019-20. Meski PSG akhirnya lolos, bayangan Haaland terus menghantui. Ketika Tuchel melatih Bayern Munich pada musim 2022-23, Haaland yang saat itu sudah berseragam Manchester City kembali menjadi mimpi buruk dengan mencetak gol di kedua leg perempat final Liga Champions.

Kini, ancaman Haaland kembali menghadang Inggris. Pertandingan perempat final Piala Dunia melawan Norwegia di Miami akan menjadi ujian besar bagi skuad asuhan Tuchel. Haaland sudah membuktikan ketajamannya dengan tujuh gol dalam empat penampilan di turnamen ini, termasuk dua gol saat Norwegia mengalahkan Brasil 2-1 di babak 16 besar — sebuah pencapaian bersejarah karena sebelumnya Norwegia belum pernah melaju sejauh ini di Piala Dunia.

Haaland Bukan Sekadar Ancaman di Lapangan

Di luar lapangan, Haaland juga menjadi pusat perhatian. Ia sempat berbelanja di Dallas, membeli topi koboi, sepatu bot, dan kaos konyol bertuliskan “Y’all can kiss my Dallas.” Foto-foto itu diunggah ke media sosial, memperkuat citranya sebagai simbol tim Norwegia yang santai dan tanpa beban. Menjelang laga melawan Inggris, Haaland dengan cerdik melempar tekanan ke kubu lawan. “Ada beberapa tim favorit yang jelas, dan Inggris adalah salah satunya. Jadi, saya pikir kalian semua (media) harus memberikan semua tekanan kepada pemain Inggris,” ujarnya.

Tuchel mencoba melawan narasi itu. “Norwegia tampil di atas standar mereka,” katanya. “Tapi secara internal mereka tahu betapa bagusnya mereka. Mereka sudah membuktikannya dengan menyingkirkan negara besar (Brasil) di panggung besar. Mulai sekarang, tidak ada lagi yang namanya favorit.” Ia menambahkan bahwa para pemain Inggris tidak merasa takut atau terbebani. “Saya mengerti situasi mereka lebih ringan, dan mereka bisa menikmati momen. Tapi kami tidak berpikir seperti itu. Para pemain kami tidak bermain dengan ketakutan. Saya tidak merasakan bobot jersey. Sekarang kami jalan, siapa pun lawannya, favorit atau tidak, tekanan ada di mana-mana.”

Identitas Inggris yang Masih Tersembunyi

Tuchel secara terbuka mengakui bahwa Inggris belum menemukan identitas permainan yang jelas di turnamen ini. “Kami harus bermain lebih baik. Kami terlalu kesulitan melewati pressing tinggi lawan. Kami perlu lebih baik dalam membangun serangan dari bawah dan saat melakukan tekanan tinggi. Lebih terhubung,” ujarnya. Menurut Tuchel, para pemain terlalu banyak berpikir sehingga keterlambatan sepersekian detik membuat celah menghilang.

Ia ingin timnya bermain lebih lepas, seperti saat kemenangan telak 5-0 atas Serbia di laga kualifikasi yang krusial. “Identitas kami belum begitu jelas dari sudut pandang sepak bola di turnamen ini. Kami agak macet dalam berpikir. Bukan masalah komitmen, tapi kami terlalu protektif dan terlalu banyak berpikir. Itu harus dihilangkan,” tegasnya.

Cuaca Panas Jadi Tantangan Tambahan

Inggris juga harus beradaptasi dengan suhu ekstrem di Miami, yang diperkirakan mencapai 34 derajat Celsius saat kick-off. Sejauh ini Inggris bermain di stadion ber-AC di Dallas dan Atlanta, serta di bawah hujan di Boston, New Jersey, dan Mexico City. Tuchel yakin persiapan di kamp pelatihan Florida akan membantu. “Saat kami turun dari pesawat di Miami, kami sudah siap merasa kepanasan. Mungkin kami masih beruntung dan ada awan gelap serta hujan deras. Tapi secara ilmiah, kami sudah mengumpulkan banyak latihan panas. Itu tidak hilang begitu saja,” jelasnya.

Kunci Kemenangan: Hentikan Haaland

Tuchel sadar bahwa menghentikan Haaland adalah prioritas utama. “Anda tidak bisa menghindari fokus padanya, pasti tidak. Ada begitu banyak kualitas dalam momen-momennya, dan Anda harus membuat keputusan. Ia akan selalu tiba di tiang jauh, jadi pertanyaannya kapan harus melakukan kontak dengannya,” ujarnya. “Beberapa bek suka bertahan zonal dan melompat lebih awal. Yang lain suka mundur dan bertarung secara fisik. Tapi ia bisa mendorong Anda dan mendapat sundulan bebas. Jika Anda bertahan zonal, ia melompati Anda. Ia memiliki semua senjata.”

Apapun yang terjadi, Tuchel hanya menginginkan kemenangan. Laga ini akan menjadi ujian karakter bagi Inggris: apakah mereka mampu tampil dengan identitas yang selama ini dicari, sekaligus meredam ancaman terbesar dari kubu Norwegia — Erling Haaland.