Zidane Puji Penampilan Lucas Da Cunha di Lini Tengah

Author:

Zinedine Zidane melontarkan pujian untuk penampilan Lucas Da Cunha di lini tengah timnas Prancis sepanjang jeda internasional kali ini. Gelandang berusia 25 tahun itu dipercaya tampil sebagai starter pada dua laga Nations League, melawan Belgia dan Italia. Pujian tersebut datang meski Da Cunha turut terlibat dalam kesalahan yang berujung gol penyama kedudukan Italia, situasi yang justru coba diredam oleh Zidane.

Dua pertandingan itu menjadi gambaran lengkap soal sosok pemain Como tersebut: di satu sisi ia tampil dominan dalam penguasaan bola dan distribusi umpan, di sisi lain ia masih menunjukkan kerapuhan yang wajar dialami seorang gelandang. Bagi Prancis, hasil dari dua laga ini juga menentukan posisi mereka di klasemen Grup A1 Nations League. Pasukan Les Bleus menang 1-0 atas Belgia, lalu bermain imbang 1-1 dengan Italia di Stade de France pada Jumat.

Statistik Lucas Da Cunha di Dua Laga Nations League

Saat menghadapi Belgia, Da Cunha tercatat sebagai pemain Prancis yang paling sering merebut penguasaan bola, yakni enam kali. Ia juga menempati urutan kedua dalam jumlah sentuhan terbanyak dengan 97 sentuhan, serta urutan kedua untuk umpan sukses dengan 83 umpan. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pelengkap di lini tengah, melainkan salah satu titik utama tempat bola mengalir.

Pada laga melawan Italia di Stade de France, perannya justru semakin menonjol dalam hal kreativitas. Da Cunha menjadi pemain yang paling banyak menciptakan peluang di pertandingan itu dengan empat kans. Ia juga menyelesaikan 82 dari 85 umpannya, atau setara dengan tingkat akurasi 96,5 persen. Akurasi setinggi itu menegaskan bahwa ia nyaman menguasai bola di bawah tekanan lawan kelas atas.

Kombinasi antara kemampuan merebut bola, ketenangan menguasai, dan ketepatan mengumpan membuat Da Cunha menjadi tipe gelandang yang dibutuhkan banyak tim modern. Ia tidak hanya bertugas memutus serangan lawan, tetapi juga menjadi penghubung antara lini belakang dan lini depan. Peran ganda semacam itu memang menuntut tanggung jawab besar, termasuk risiko kehilangan bola di area berbahaya.

Kesalahan Melawan Italia dan Pembelaan Zidane

Risiko itu benar-benar terjadi dalam laga kontra Italia. Alessandro Bastoni memanfaatkan kesalahan komunikasi antara Da Cunha dan Adrien Rabiot untuk mencetak gol penyama kedudukan bagi Gli Azzurri. Momen tersebut menjadi satu-satunya noda dalam catatan penampilan Da Cunha pada laga itu, dan langsung menjadi bahan perdebatan setelah pertandingan usai.

Zidane memilih untuk tidak menyalahkan pemain mana pun secara pribadi. Menurutnya, kesalahan dalam sepak bola adalah tanggung jawab kolektif, bukan sesuatu yang perlu dibebankan kepada satu orang. Ia menegaskan bahwa inti dari permainan adalah berusaha membuat kesalahan sesedikit mungkin, bukan mencari siapa yang paling bersalah saat kesalahan itu terjadi.

“Sepak bola adalah soal berusaha membuat sesedikit mungkin kesalahan. Saya tidak akan masuk ke pertanyaan siapa yang salah. Ketika ada kesalahan, itu salah semua orang,” ujar Zidane. Ia menambahkan bahwa dirinya tidak ingin menjadikan insiden itu sebagai dasar penilaian terhadap kualitas seorang gelandang.

Zidane kemudian membeberkan hal-hal yang ia harapkan dari seorang gelandang, yakni apa yang sudah dilakukan, apa yang sedang dikerjakan, dan apa yang terus ditunjukkan di lapangan. Ia menilai Da Cunha layak berada di skuad bersama pemain lainnya dan layak mendapatkan kesempatan bermain. Menurutnya, pemain itu memiliki kepribadian kuat, tidak takut mengambil risiko dalam bermain, mampu menyaring dan mendistribusikan umpan, serta bisa melepas umpan panjang sejauh sekitar 40 yard dengan baik.

Arti Penting Penampilan Da Cunha bagi Prancis

Bagi Da Cunha, kepercayaan yang ditunjukkan Zidane menjadi sinyal bahwa posisinya di skuad Prancis tidak dibangun di atas satu-dua momen saja. Pemain berusia 25 tahun itu sedang berada di fase penting kariernya, terutama karena ia membawa nama Como ke panggung tim nasional. Kesempatan bermain pada dua laga Nations League memberi pengalaman berharga yang sulit didapat di klub.

Dari sisi skuad, kehadiran gelandang dengan karakter seperti Da Cunha memperkaya opsi yang dimiliki Prancis. Ia memberikan variasi dalam cara tim membangun serangan, sekaligus menawarkan kemampuan bertahan yang cukup agresif dalam merebut bola. Kehadiran pemain tipe ini penting ketika Prancis menghadapi lawan yang menekan tinggi dan memaksa lini tengah bekerja lebih keras.

Namun, insiden melawan Italia juga menjadi pengingat bahwa proses adaptasi di level tim nasional tidak pernah mulus. Kesalahan komunikasi antara dua gelandang sering terjadi ketika keduanya belum memiliki jam terbang bermain bersama yang panjang. Cara Zidane menangani situasi itu menunjukkan bahwa ia lebih memilih melindungi pemainnya ketimbang menambah tekanan dari luar.

Posisi Prancis di Grup A1 dan Laga Berikutnya

Setelah tiga pertandingan, Prancis masih memimpin Grup A1 Nations League. Posisi di puncak klasemen ini memberi mereka keuntungan tersendiri menjelang pertandingan penutup rangkaian jeda internasional. Pada laga terakhir tersebut, Les Bleus akan berhadapan dengan Belgia yang saat ini menempati peringkat kedua grup.

Pertemuan itu jelas bernilai besar karena menentukan siapa yang berhak mengakhiri rangkaian laga ini dengan posisi teratas. Bagi Prancis, menjaga konsistensi performa di lini tengah akan menjadi kunci, terutama setelah munculnya catatan soal kesalahan yang berbuah gol pada laga sebelumnya. Di sisi lain, kepercayaan diri Da Cunha juga sedang diuji setelah dua penampilan yang secara statistik terbilang impresif.

Yang menarik, duel ini menjadi kesempatan bagi pemain pelapis untuk kembali membuktikan diri di hadapan pelatih. Kompetisi internal semacam ini biasanya membuat level permainan tim nasional tetap tinggi menjelang turnamen besar berikutnya. Selain itu, laga melawan Belgia menjadi ajang pembuktian apakah kombinasi gelandang yang sedang dibangun Prancis sudah cukup matang untuk menghadapi tekanan lawan berkualitas.

Kesimpulan

Penampilan Lucas Da Cunha pada dua laga Nations League menempatkan namanya di pusat perhatian, bukan hanya karena statistik impresif seperti 97 sentuhan dan akurasi umpan 96,5 persen, tetapi juga karena kesalahan yang berujung gol Italia. Respons Zidane yang memilih membela pemainnya alih-alih mencari kambing hitam menunjukkan bahwa ia melihat potensi jangka panjang pada sang gelandang.

Dengan Prancis masih kokoh di puncak Grup A1, laga melawan Belgia di posisi kedua menjadi ujian berikutnya bagi skuad asuhan Les Bleus. Bagi Da Cunha, pertandingan itu adalah kesempatan untuk membuktikan bahwa performa baiknya bukan sekadar kebetulan sesaat.