Afcon Kembali ke Siklus Dua Tahun Usai Caf Berbalik Arah

Author:

Piala Afrika atau Africa Cup of Nations (Afcon) akan kembali digelar setiap dua tahun setelah Confederation of African Football (Caf) berbalik arah. Keputusan itu membatalkan rencana yang sempat diumumkan pada Desember untuk menggelar turnamen setiap empat tahun. Dengan langkah ini, Afcon kembali ke siklus dua tahunan yang sudah lama menjadi tradisi.

Perubahan ini penting karena Afcon melibatkan 54 asosiasi anggota Caf dan menjadi ajang utama bagi banyak pemain Afrika, termasuk mereka yang berkarier di klub luar benua. Caf menegaskan bahwa keputusan tersebut diambil setelah dilakukan peninjauan ulang. Presiden Caf, Patrice Motsepe, menyebut langkah ini bertujuan memajukan, melindungi, dan mempromosikan kepentingan sepak bola Afrika.

Caf Batalkan Rencana Siklus Empat Tahun

Dalam pengumuman terbaru, Caf memastikan bahwa Afcon akan dihelat lagi setiap dua tahun. Keputusan ini muncul setelah evaluasi atas rencana sebelumnya yang ingin mengubah Afcon menjadi turnamen empat tahunan. Langkah tersebut sekaligus mengoreksi arah kebijakan yang sempat diambil pada Desember.

Sebelumnya, Caf juga membahas gagasan African Nations League sebagai turnamen dua tahunan yang dapat menggantikan Afcon. Namun, Caf mengakui bahwa liga tersebut membutuhkan waktu beberapa tahun untuk menghasilkan pendapatan yang cukup agar bisa mandiri secara finansial. Karena itu, gagasan tersebut tidak bisa langsung menjadi pengganti Afcon dalam waktu dekat.

Alasan Afcon Kembali ke Siklus Dua Tahun

Motsepe menjelaskan bahwa keputusan Komite Eksekutif untuk mengembalikan Afcon ke siklus dua tahun bertujuan memajukan, melindungi, dan mempromosikan kepentingan sepak bola Afrika. Menurutnya, kepentingan itu mencakup 54 asosiasi anggota Caf serta para pemain Afrika yang bermain untuk klub di luar benua. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Afcon tetap dipandang sebagai turnamen sentral bagi ekosistem sepak bola Afrika.

Selain soal kepentingan kompetisi, keputusan ini juga berkaitan dengan kebutuhan Caf menjaga keberlanjutan turnamen utama. Dalam rencana sebelumnya, African Nations League disebut memerlukan waktu bertahun-tahun sebelum mampu menghasilkan pendapatan yang memadai. Kembalinya Afcon ke siklus dua tahun membuat turnamen ini tetap menjadi ajang utama yang menopang perhatian dan pendapatan sepak bola Afrika.

Dampak pada Kalender Sepak Bola dan Klub Eropa

Penggelaran Afcon setiap dua tahun sudah lama menimbulkan persoalan dalam kalender sepak bola. Sebagian besar edisi terbaru digelar di tengah musim klub Eropa. Kondisi itu membuat klub harus menyesuaikan skuad karena sejumlah pemain Afrika meninggalkan tim untuk membela negara masing-masing.

Tekanan pada kalender semakin terasa ketika Fifa memperluas Club World Cup menjadi 32 tim. Turnamen itu digelar pada Juni dan Juli tahun lalu. Sumber menyebut bahwa agenda tersebut turut memaksa Caf memilih tanggal di tengah musim untuk Afcon.

Dengan Afcon kembali ke siklus dua tahun, tantangan penjadwalan tidak serta-merta hilang. Caf, Fifa, klub, dan liga perlu mencari keseimbangan agar turnamen tetap berjalan tanpa merugikan kompetisi domestik maupun pemain. Pembahasan mengenai jeda internasional dan pelepasan pemain kemungkinan tetap menjadi isu penting ke depan.

Jadwal Afcon 2027 hingga 2033

Afcon berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 2027. Edisi tersebut akan digelar bersama oleh Kenya, Tanzania, dan Uganda. Setelah itu, Caf merencanakan edisi pada 2028, 2031, dan 2033.

Tidak akan ada turnamen Afcon pada 2030 karena bertepatan dengan Piala Dunia. Jadwal ini memberikan gambaran jangka panjang bagi asosiasi anggota, tuan rumah, dan penggemar. Dengan siklus dua tahun yang kembali berlaku, rentetan edisi tersebut menjadi acuan awal untuk perencanaan kompetisi.

Tantangan Tata Kelola dan Bayangan Final 2025

Keputusan soal siklus turnamen muncul di tengah sorotan terhadap tata kelola kompetisi. Final Afcon 2025 berlangsung dramatis ketika Senegal dinobatkan sebagai juara. Namun, tiga bulan kemudian gelar Senegal dicabut dan diberikan kepada Maroko.

Kasus tersebut menunjukkan bahwa persoalan Afcon tidak berhenti pada jadwal atau format. Kredibilitas keputusan, konsistensi regulasi, dan komunikasi kepada publik juga menjadi bagian penting. Dengan kembali digelar setiap dua tahun, Caf menghadapi tuntutan lebih besar untuk menjaga standar penyelenggaraan dan kepercayaan peserta.

Secara keseluruhan, Afcon kembali ke siklus dua tahun setelah Caf membatalkan rencana empat tahunan. Keputusan ini mempertahankan Afcon sebagai turnamen utama bagi 54 asosiasi anggota dan para pemain Afrika yang berkarier di luar benua. Jadwal 2027 di Kenya, Tanzania, dan Uganda menjadi edisi berikutnya yang akan dinantikan.

Ke depan, fokus bukan hanya pada seberapa sering Afcon digelar. Cara Caf menyeimbangkan kalender, menjaga pendapatan, dan memperkuat tata kelola akan menentukan apakah siklus dua tahun benar-benar menguntungkan sepak bola Afrika. Bagi penggemar, kepastian jadwal ini memberi gambaran lebih jelas tentang panggung berikutnya bagi bintang-bintang Afrika.