Celtic kalah dari Falkirk dengan skor 2-0 pada laga Scottish Premiership, dan Martin O’Neill menyebut timnya membuang terlalu banyak peluang. Menurutnya, Celtic menciptakan cukup kans untuk memenangi tiga pertandingan, tetapi tidak mampu mencetak satu gol pun di kandang Falkirk. Hasil ini terasa mengejutkan karena Falkirk mengakhiri catatan tak terkalahkan Celtic dalam 19 pertemuan sebelumnya.
Kekalahan ini bukan sekadar kehilangan tiga poin. Ini menjadi kekalahan liga kedua Celtic musim ini dan membuat mereka gagal memperlebar keunggulan empat poin di puncak klasemen Premiership. Dalam 10 pertandingan terakhir di semua kompetisi, Celtic hanya menang tiga kali, dengan satu hasil imbang dan enam kekalahan, sehingga tekanan terhadap O’Neill semakin terasa.
Kekalahan Celtic dari Falkirk Berawal dari Dua Gol Cepat
Falkirk membuka keunggulan pada menit ketiga melalui Ethan Ross. Gol itu lahir dari serangan pertama Falkirk, ketika Cameron Carter-Vickers yang kembali tampil justru mengarahkan bola kepada Ross, dan penyerang tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan. Celtic sudah tertinggal sebelum benar-benar menemukan ritme permainan.
Gol kedua datang pada menit ke-38. Scott Tanser menerima umpan terobosan Owen Eames, menembus pertahanan Celtic, lalu menyelesaikan peluang dengan tenang. Dua gol itu memberi Falkirk keunggulan dua gol, sementara Celtic harus mengejar dari belakang.
Celtic sebenarnya menghasilkan banyak peluang. Mereka melepaskan 24 tembakan dan mencatat 2,8 expected goals, tetapi tidak satu pun berbuah gol. Camilo Duran juga membentur tiang gawang tak lama setelah Falkirk memimpin, menambah daftar peluang yang gagal dimanfaatkan.
O’Neill Soroti Penyelesaian Akhir dan Pertahanan
Kepada BBC Scotland, O’Neill mengakui rasa kecewa karena timnya kalah. Ia menilai Celtic kebobolan gol-gol yang buruk, terutama gol pembuka yang terjadi sangat awal. Meski begitu, ia menegaskan bahwa masalah utama bukan sekadar pertahanan, melainkan juga ketajaman di depan gawang.
O’Neill mengatakan Celtic bermain cukup baik dan menciptakan banyak peluang, tetapi gagal mencetak gol. Ia juga menyoroti kebutuhan untuk memperkuat pertahanan dan menargetkan clean sheet. Dalam pandangannya, kombinasi antara peluang terbuang dan gol mudah yang kebobolan membuat hasil akhir terasa menyesakkan.
Ia memberikan pujian khusus kepada kiper Falkirk, Scott Bain. Menurut O’Neill, Bain tampil luar biasa dengan penyelamatan yang mungkin tidak bisa dijangkau banyak kiper lain. Bain mencatat sembilan penyelamatan, termasuk saat menahan upaya Haissem Hassan, Camilo Duran, James Forrest, dan Mika Baur.
Dampak Kekalahan bagi Celtic dan Posisi O’Neill
Kekalahan ini membuat Celtic tertahan di puncak klasemen tanpa bisa menambah keunggulan empat poin. Dalam 10 laga terakhir di semua kompetisi, mereka hanya meraih tiga kemenangan, satu imbang, dan enam kekalahan. Catatan itu menjelaskan mengapa performa tim dan posisi O’Neill menjadi bahan sorotan.
O’Neill memahami kritik yang muncul. Ia menyebut setiap kekalahan Celtic selalu memicu kemarahan dan frustrasi, dan menurutnya sorotan itu wajar karena klub terbiasa menang. Ia tidak menghindari kenyataan bahwa hasil buruk akan selalu membawa tekanan bagi pelatih.
Meski demikian, O’Neill menekankan bahwa musim masih panjang. Ia mengingatkan bahwa pada periode yang sama tahun lalu, Celtic berada dalam posisi yang lebih buruk. Pernyataan itu menjadi pembelaan sekaligus penegasan bahwa timnya masih memiliki waktu untuk membalikkan keadaan.
Rotasi, Jadwal Padat, dan Konteks Persaingan
O’Neill juga menjelaskan alasan di balik perubahan susunan tim. Menurutnya, Celtic memiliki banyak pertandingan, termasuk bermain di Eropa, sehingga rotasi menjadi kebutuhan. Ia menilai tidak realistis meminta pemain yang sama tampil setiap pekan tanpa jeda.
Bagi Falkirk, kemenangan ini punya makna besar karena mengakhiri catatan buruk melawan Celtic. Dalam 19 pertemuan sebelumnya, Celtic menang 17 kali dan seri dua kali, sehingga hasil 2-0 ini menjadi pukulan sekaligus pembuktian bagi tim tuan rumah. Falkirk mampu mengubah peluang menjadi dua gol, sementara Celtic tidak mampu mencetak gol dari 24 tembakan.
Di kompetisi yang panjang, hasil seperti ini bisa memengaruhi momentum dan kepercayaan diri. Celtic tetap memiliki kualitas untuk bangkit, tetapi mereka perlu segera memperbaiki efisiensi penyelesaian akhir dan ketahanan pertahanan. Jika tidak, keunggulan di puncak klasemen bisa terus tergerus oleh tim-tim pesaing.
Secara keseluruhan, kekalahan Celtic dari Falkirk menggabungkan dua masalah yang saling berkaitan: peluang yang tidak dimanfaatkan dan gol yang terlalu mudah kebobolan. O’Neill tidak menyangkal bahwa timnya kecewa, tetapi ia menilai jumlah peluang yang diciptakan menunjukkan bahwa Celtic masih mampu bermain baik. Kunci berikutnya adalah mengubah dominasi menjadi gol dan menjaga konsistensi di laga-laga berikutnya.
Bagi Falkirk, kemenangan 2-0 ini akan dikenang sebagai hasil bersejarah setelah 19 tahun. Bagi Celtic, tekanan tidak akan hilang hanya karena pelatih menjelaskan alasan rotasi dan jadwal padat. Pertandingan berikutnya akan menjadi ujian apakah O’Neill dan para pemain bisa merespons dengan perbaikan nyata.
