Federico Chiesa, penyerang Liverpool, mengungkapkan keinginannya untuk memulai babak baru di bawah asuhan pelatih anyar Andoni Iraola. Pernyataan itu muncul setelah ia melewati masa frustrasi di era Arne Slot, di mana menit bermainnya sangat terbatas. Chiesa bahkan menilai klubnya beruntung bisa lolos ke Liga Champions musim lalu.
Pemain asal Italia itu dirumorkan kembali ke Serie A pada jendela transfer musim panas ini setelah dua tahun kesulitan mendapat tempat reguler di Anfield. Sepanjang musim lalu, Chiesa mencatatkan 36 penampilan—terlihat cukup banyak di atas kertas—tetapi hanya lima di antaranya sebagai starter. Ia hanya sekali menjadi starter di Premier League musim lalu, meskipun lini serang Liverpool sempat terpuruk akibat cedera Alexander Isak dan Hugo Ekitiké. Start terakhirnya adalah saat kemenangan di putaran keempat Piala FA melawan Brighton pada 14 Februari.
Kini, dengan pergantian pelatih, Chiesa berharap nasibnya berubah sebagai pemain Liverpool. “Awal tahun selalu menjadi awal yang baru,” ujar pemain 28 tahun itu setelah mencetak gol indah dalam kemenangan 4-2 Liverpool atas Sunderland di Nashville. “Mungkin sudah terlalu banyak awal yang baru bagi saya. Tapi saya tidak peduli, saya berusaha memberikan yang terbaik untuk manajer baru ini.”
Kekecewaan di Era Slot dan Harapan Baru
Chiesa mengakui bahwa musim lalu ia merasa siap untuk peran yang lebih besar, namun keputusan tetap ada di tangan pelatih. “Di bawah Arne Slot, saya berusaha maksimal. Saya merasa siap, tapi terserah pelatih apakah ingin memainkan saya atau tidak. Tentu saya ingin lebih sering bermain, tapi begitulah. Pelatih punya rencana dan keputusannya sendiri. Saya tidak bisa berkata apa-apa. Ini sepak bola. Tahun ini, katakanlah ini adalah babak baru. Ada manajer baru dan saya harus fokus pada hal itu,” jelasnya.
Chiesa mengaku belum membahas masa depannya secara spesifik dengan Iraola sejak pelatih asal Basque itu menggantikan Slot pada Juni. “Satu-satunya percakapan adalah soal pressing dan taktik. Dia menempatkan saya sebagai striker saat melawan Sunderland dan menginginkan saya di posisi itu,” katanya. Namun, prioritasnya saat ini adalah membuktikan diri kepada pelatih kepala, bukan mencari jalan kembali ke Serie A, meskipun Como dan mantan klubnya Juventus dikaitkan dengan kepindahannya.
Komitmen pada Liverpool dan Target Musim Depan
“Saat ini saya bahagia di Liverpool. Saya cinta klub ini, cinta para penggemar, cinta semuanya. Saya melakukan yang terbaik untuk mendapatkan kesempatan di sini. Nanti kita lihat saja. Untuk saat ini, satu-satunya yang saya pikirkan adalah Liverpool,” tegas Chiesa yang masih memiliki kontrak dua tahun bersama The Reds.
Ia juga menyoroti perjuangan Liverpool di akhir musim lalu yang baru memastikan tiket Liga Champions pada hari terakhir, yang merupakan laga terakhir Slot. Menurut Chiesa, hal itu bukan alasan untuk bersuka cita bagi klub sekelas Liverpool. “Liverpool pantas mendapatkan lebih. Dua tahun lalu kami juara Premier League. Tahun lalu kami hampir kehilangan tempat di Liga Champions. Kami bertarung untuk posisi kelima, yang saat itu cukup, tapi biasanya hanya empat tim yang lolos. Kami beruntung,” tegasnya.
“Musim lalu berat, dan musim ini kami harus tampil lebih baik, termasuk di Liga Champions. Kami tersingkir oleh PSG. Kami ingin melaju lebih jauh di kompetisi itu dan juga ingin meraih hasil yang lebih baik di Premier League.”
Peluang Kembali ke Timnas Italia
Chiesa juga berharap bisa merebut kembali tempatnya di tim nasional Italia setelah absen di beberapa skuad terakhir. Italia saat ini sedang mencari pelatih kepala baru setelah gagal lolos ke Piala Dunia di bawah arahan Gennaro Gattuso. “Situasinya begini: saya berbicara dengan pelatih beberapa kali, Gattuso, dan saat itu kondisi fisik saya belum siap. Ketika saya kembali pada Maret, saya cedera. Tapi saya menantikan untuk bermain untuk tim nasional. Saya pernah menang bersama tim nasional (Euro 2020). Selalu menyenangkan bermain dan menang untuk negara Anda,” pungkasnya.
Kesimpulan: Federico Chiesa memasuki babak baru di Liverpool dengan semangat dan tekad untuk membuktikan dirinya di bawah kepelatihan Andoni Iraola. Meskipun masa lalu penuh frustrasi, ia tetap berkomitmen pada klub dan optimistis musim depan akan lebih baik—baik di level klub maupun internasional.
