Transformasi Prancis: Deschamps di Ambang Status All-Time Great

Author:

Dua tahun lalu, Didier Deschamps berada di titik terendah. Tim nasional Prancis yang baru direnovasi tampil buruk dan kalah telak dari Italia di laga pembuka Nations League. Suporter di Paris mencemooh, bahkan tiga hari kemudian di Lyon, namanya diejek sebelum kick-off melawan Belgia. Saat itu, banyak yang merasa era keemasan Deschamps sudah usai.

Sekarang, situasinya berbalik total. Pelatih berusia 57 tahun itu berdiri di ambang status all-time great. Jika enam hari ke depan berjalan sesuai rencana, ia akan menjadi pelatih kedua dalam sejarah yang memenangkan Piala Dunia dua kali. Cahaya telah kembali menyinari Les Bleus, dan kebangkitan ini akan mencapai puncaknya jika mereka mampu mengalahkan Spanyol di final nanti.

Ujian Besar Melawan Spanyol

Pertandingan melawan Spanyol di Dallas akan menjadi ujian sempurna bagi transformasi yang membedakan pelatih elit dari yang lainnya. Di semifinal Euro 2024, Prancis kalah wajar dari Spanyol yang diperkuat Lamine Yamal. Saat itu, permainan Prancis terlihat kaku, miskin kreativitas, dan tanpa daya. Banyak yang berpikir sudah waktunya Deschamps mundur setelah satu dekade menangani timnas.

Namun, Deschamps justru melakukan revolusi. Ia memberikan lisensi terbang bagi generasi baru Prancis. Hasilnya, pada musim panas ini, tidak ada yang mampu menandingi kecepatan, ketajaman, variasi serangan, dan kualitas lini depan Prancis. Tim yang dulu pragmatis kini bermain dengan api dan energi yang membara.

Dari “Pengangkut Air” Menjadi Arsitek Kemenangan

Julukan “pembawa air” yang pernah dilekatkan Eric Cantona saat Deschamps masih bermain kini terasa ironis. Ia telah membentuk tim yang menggebrak. Selama bertahun-tahun, banyak yang menganggap Deschamps hanya beruntung karena memiliki bakat melimpah. Bahkan saat menjuarai Piala Dunia 2018, ia dituduh bermain aman. Di Euro, ia dikritik tidak punya rencana ofensif selain mengandalkan Kylian Mbappé.

Namun, pengakuan akan sentuhan pribadinya kini tak terbantahkan. Jika berhasil membawa pulang trofi Piala Dunia di New Jersey, statusnya akan berubah. Beberapa sumber di sekitar kamp pelatihan Prancis mengatakan bahwa keputusan Deschamps untuk mundur setelah turnamen ini—yang diumumkan Januari 2025—justru membebaskannya. Beban sorotan berkurang karena pelatih baru, kemungkinan Zinedine Zidane, sudah menanti. Deschamps memiliki 18 bulan untuk menyiapkan pesta perpisahan tanpa harus menjawab pertanyaan soal masa depannya.

Perubahan Taktik yang Membawa Kelegaan

Spanyol kini sadar bahwa mereka akan menghadapi lawan yang berbeda. Pada Juni 2025, kedua tim bertemu di semifinal Nations League yang luar biasa di Stuttgart. Saat itu, Deschamps sudah melakukan perubahan paling signifikan: mengorbankan satu gelandang dan efektif memainkan empat penyerang dalam formasi 4-2-3-1. Formasi ini pertama kali diuji saat melawan Italia, ketika Michael Olise menjalani debut senior. Kemudian datanglah lapisan emas: Olise, Désiré Doué, Ousmane Dembélé, dan Mbappé. Prancis kalah 5-4 tetapi menunjukkan cetak biru yang menggiurkan.

Kuartet yang sama kemungkinan akan menjadi starter pada pertandingan Selasa nanti. Wajar untuk mencatat bahwa Deschamps dibantu oleh beban rendah yang ditanggung pemain Paris Saint-Germain, yang sering dirotasi selama kampanye Ligue 1 yang tidak terlalu berat. Bradley Barcola yang penuh semangat, pasti menjadi starter di tim nasional lain, menjadi keuntungan tambahan bersama Doué dan Dembélé. Prancis tampil segar, gesit, dan mampu berlari lebih kencang dari siapa pun.

Transisi Generasi yang Mulus

Keberhasilan Deschamps tidak terjadi begitu saja. Ia harus mengelola transisi setelah kepergian Hugo Lloris, Raphaël Varane, Olivier Giroud, dan Antoine Griezmann yang pensiun dari timnas. Pengunduran diri Griezmann pada September 2024 terasa sangat berat karena kedekatan keduanya. Namun, Deschamps berhasil terhubung dengan generasi yang lebih muda. Para pemain mengakui bahwa ia menjadi lebih dekat dan mudah diakses. Tim Prancis bersatu, jalur komunikasi jelas. Tidak cukup hanya menurunkan 11 pemain top di lapangan; Deschamps menemukan cara membuat setiap anggota skuad berfungsi optimal.

Termasuk Mbappé, yang memeluk Deschamps setelah mencetak gol pembuka Prancis melawan Swedia di babak 32 besar. Saat itu, pelatih kembali setelah absen melawan Norwegia karena ibunya meninggal. “Saya bilang sejak awal, dia sedang dalam misi,” kata Deschamps tentang Mbappé, yang sangat ingin menghapus kenangan pahit final Qatar 2022. Ikatan mereka diibaratkan seperti hubungan Deschamps dengan Aimé Jacquet pada 1998, saat ia menjadi kapten yang mengangkat Piala Dunia di rumah sendiri.

Menuju Final yang Menentukan

Mungkin gaung sejarah akan bergema di New Jersey pada hari Minggu. Spanyol akan memberikan ujian menyeluruh terbesar bagi Prancis, setelah Senegal yang kurang greget dan Norwegia lapis kedua tidak mampu menuntut level ekspektasi tinggi di babak grup. Pekan depan akan menentukan apakah Deschamps akan dikenang sebagai all-time great. Memenangkan gelar dengan generasi berbeda dan gaya bermain yang kontras adalah ukuran terbaik. Dari kegelapan, Deschamps dan Prancis dapat melihat hadiah gemilang di ujung perjalanan mereka bersama.

Kesimpulannya, transformasi yang dilakukan Didier Deschamps membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar pelatih beruntung. Dengan pendekatan taktik yang berani, manajemen transisi pemain, dan kemampuan memotivasi skuad, ia layak disejajarkan dengan pelatih legendaris. Kini, satu pertandingan lagi memisahkannya dari keabadian di dunia sepak bola.