Rekor Pertahanan Spanyol di Piala Dunia 2026: Kunci Lolos ke Perempat Final

Author:

Spanyol melangkah ke perempat final Piala Dunia 2026 dengan modal luar biasa: belum sekalipun kebobolan sepanjang turnamen. Tim asuhan Luis de la Fuente ini berhasil mencatatkan rekor pertahanan baru yang sulit ditandingi. Jika ingin meraih gelar kedua setelah sukses di Afrika Selatan 2010, pertahanan kokoh inilah yang menjadi fondasi utama perjalanan mereka.

Rekor Pertahanan Spanyol di Piala Dunia 2026 yang Memecahkan Sejarah

La Roja menjadi satu-satunya tim yang belum kebobolan di turnamen ini setelah tuan rumah Meksiko harus kebobolan tiga gol melawan Inggris di babak 16 besar. Lebih mengesankan lagi, Spanyol kini memegang rekor clean sheet sebanyak enam pertandingan beruntun di Piala Dunia — rekor mutlak yang sebelumnya dipegang Italia (1990) dan Swiss (2006–2010).

Total waktu tanpa kebobolan Spanyol kini mencapai 10 jam 9 menit, terhitung sejak laga babak 16 besar Piala Dunia 2022 melawan Maroko yang berakhir tanpa gol. “Ini adalah hasil kerja kolektif, soliditas pertahanan yang hebat,” ujar De la Fuente seusai menekuk Portugal 1-0 di babak 16 besar.

Unai Simon dan Tembok Kokoh di Belakang

Kiper Unai Simon menjadi pusat dari rekor pertahanan Spanyol. Ia memperpanjang catatan menit tanpa kebobolan di Piala Dunia menjadi 609 menit — melampaui rekor legenda Italia Walter Zenga (517 menit) dan rekan senegara Iker Casillas (476 menit). Dalam laga melawan Portugal, Simon bahkan tidak perlu melakukan penyelamatan spektakuler berkat kerja sama tim yang solid.

Di depannya, duet bek tengah Aymeric Laporte dan Pau Cubarsi menjadi pasangan ideal untuk gaya bermain Spanyol: membawa bola, membangun serangan dari belakang, dan bertahan dengan ruang luas di belakang garis. Pedro Porro dan Marc Cucurella memberikan lebar dari posisi full-back, sementara Rodrigo (Rodri) berfungsi sebagai “mercusuar tim” yang mengontrol tempo dan membantu pertahanan.

Filosofi De la Fuente: Solidaritas, Kerja Keras, Pengorbanan

Pelatih Spanyol menekankan bahwa catatan bersih tanpa kebobolan bukanlah kebetulan. “Ada solidaritas, usaha, pengorbanan, dan setiap pemain berlari untuk satu sama lain,” kata De la Fuente. Semua elemen permainan — dari penyerang hingga bek — terlibat dalam pressing dan transisi bertahan. Pendekatan inilah yang membuat Spanyol kebal terhadap serangan lawan, termasuk Cristiano Ronaldo dan Rafael Leao yang diredam di laga sebelumnya.

Perjalanan Spanyol dari Kejayaan 2010 hingga Kebangkitan 2026

Setelah menjuarai Piala Dunia 2010 dengan gaya tiki-taka yang memukau, Spanyol sempat mengalami masa sulit: tersingkir di fase grup pada 2014 dan 2018, lalu kalah di babak 16 besar pada 2022. Namun kini, sebagai juara Eropa bertahan, skuad yang dibawa De la Fuente terlihat memiliki keseimbangan sempurna antara serangan dan pertahanan.

Meskipun performa menyerang belum maksimal — seperti yang diakui mantan striker Inggris Chris Sutton — fakta bahwa Spanyol tidak kebobolan membuat mereka menjadi tim yang sangat berbahaya. “Tes berat akan datang jika mereka bertemu Prancis, tapi saya yakin Spanyol bisa mengalahkan mereka jika tampil nyaris sempurna,” ujar Sutton kepada BBC Radio 5 Live.

Tantangan Berikutnya: Belgia di Perempat Final

Sebelum memikirkan Prancis, Spanyol harus melewati hadangan Belgia pada Jumat mendatang. Dengan rekor pertahanan yang belum ternoda, La Roja diunggulkan untuk melanjutkan laju. Kunci kemenangan tetap bergantung pada soliditas lini belakang dan kemampuan mencetak gol di momen krusial, seperti yang ditunjukkan di laga melawan Portugal.

Jika Spanyol mampu mempertahankan rekor pertahanan ini hingga final di New Jersey pada 19 Juli, bukan tidak mungkin mereka akan mengangkat trofi untuk kedua kalinya — sejarah baru yang dimulai dari kokohnya pertahanan.