Celtic tetap sempurna di Scottish Premiership setelah menang tipis 1-0 di kandang St Johnstone, tetapi Martin O’Neill menegaskan timnya belum boleh merasa aman. Menjelang laga Old Firm melawan Rangers pada perempat final Piala Liga Skotlandia akhir pekan ini, ia menilai masih banyak hal yang harus dibenahi dari performa skuadnya.
Kemenangan di Perth itu membuat Celtic unggul lima poin atas Rangers yang menempati posisi kedua. Rangers sendiri juga baru saja meraih kemenangan susah payah 1-0 atas St Mirren di kandang, sehingga kedua raksasa Skotlandia melangkah ke duel di Ibrox dengan modal tiga poin sekaligus sejumlah catatan yang belum tuntas di lini depan.
Gol Perdana Mika Baur Bawa Celtic Menang di Perth
Laga di Perth berjalan jauh dari mulus bagi Celtic. Gol baru lahir tujuh menit setelah turun minum, ketika Mika Baur menyelesaikan umpan Haissem Hassan untuk membuka keunggulan. Bagi Baur, itu adalah gol pertamanya bersama klub, dan ternyata menjadi satu-satunya gol yang tercipta sepanjang pertandingan.
Hasil 1-0 itu cukup untuk menjaga catatan sempurna Celtic di kompetisi liga musim ini. Kendati demikian, cara timnya meraih kemenangan jelas bukan yang diharapkan O’Neill, sebab Celtic beberapa kali nyaris kehilangan poin pada laga yang seharusnya bisa mereka tutup lebih cepat dari lawan yang berada di bawah mereka.
St Johnstone bahkan sempat mengancam melalui peluang terbaik mereka. Gawang Celtic harus diselamatkan Sam Johnstone, yang melakukan penyelamatan bagus untuk menggagalkan upaya Joe Cotterill dari jarak dekat. Momen itu menjadi pengingat bahwa keunggulan satu gol tidak pernah benar-benar aman.
Celtic Dominan tapi Boros di Depan Gawang
Statistik pertandingan memperlihatkan betapa borosnya Celtic dalam memanfaatkan peluang. Tim asuhan O’Neill melepaskan sembilan tembakan tepat sasaran dengan nilai expected goals (xG) mencapai 2,22, angka yang seharusnya berbuah lebih dari sekadar satu gol. Artinya, jumlah peluang yang diciptakan jauh melampaui hasil akhir yang didapat.
Pemborosan itu makin terasa karena peluang emas juga muncul di menit-menit akhir. Callum McGregor dan James Forrest bergantian membuang kesempatan untuk menambah keunggulan, sementara Hassan sempat mencetak gol yang akhirnya dianulir. Wasit menilai bola sudah keluar lapangan sebelum Kasper Hogh menyundulnya ke jalur Hassan.
Kondisi tersebut menjelaskan mengapa O’Neill memilih bersikap hati-hati meski timnya menang. Kemenangan memang tetap bernilai penuh, tetapi pola permainan yang menciptakan banyak peluang tanpa penyelesaian tajam bisa menjadi masalah serius ketika lawan yang dihadapi punya kualitas lebih tinggi.
Rangers Menang Dramatis Lewat Gol Menit 91 Miovski
Di sisi lain kota, Rangers meraih kemenangan dengan cara yang tak kalah menegangkan. Melawan St Mirren di kandang, pasukan Derek McInnes baru menemukan jalan ke gawang pada menit ke-91 melalui chip halus Bojan Miovski. Gol itu memastikan kemenangan keempat beruntun Rangers di liga musim ini.
Rangers sebenarnya juga cukup dominan dengan catatan xG 2,13, tetapi mereka kesulitan menembus pertahanan St Mirren hingga menit-menit terakhir. Sebelum gol itu, St Mirren justru punya peluang terbaik dalam laga tersebut ketika Fraser Taylor lolos satu lawan satu, namun usahanya digagalkan Ivor Pandur. Peluang itu menunjukkan St Mirren sebenarnya berpeluang membawa pulang tiga poin penuh.
Gol kemenangan Rangers lahir dari kerja sama singkat di depan gawang. Miovski, yang masuk sebagai pemain pengganti, memanfaatkan flick-on Ryan Naderi untuk menipu kiper lawan. Aksi itulah yang membuat McInnes akhirnya bisa bernapas lega.
Reaksi Kedua Manajer atas Kemenangan Tipis
O’Neill tidak menyembunyikan bahwa penampilan timnya masih jauh dari ideal. “Kami bisa bermain jauh lebih baik, dan mari kita lihat apa yang terjadi Minggu nanti,” ujarnya kepada BBC Sportsound. Ia menambahkan bahwa laga tersebut sulit dinilai secara sederhana karena timnya sebenarnya mampu mencetak beberapa gol, terutama setelah memimpin.
Baginya, masalah utama terletak pada penyelesaian akhir. “Mencetak gol itu selalu sulit, tidak ada keraguan soal itu. Tapi kami membuatnya tampak mustahil,” kata O’Neill. Ia mengaku senang karena kemenangan tetap diraih, sekaligus menegaskan bahwa masih banyak aspek yang harus diperbaiki sebelum menghadapi Rangers.
McInnes di kubu Rangers juga mengakui pertandingan tidak berjalan sesuai rencana sepenuhnya. Menurutnya, St Mirren memiliki periode 20 menit di babak kedua ketika mereka tampil lebih baik dan lebih percaya diri menekan. Ia pun mengakui timnya membuat terlalu banyak keputusan buruk saat laga masih tanpa gol.
Meski begitu, McInnes menilai dasar permainan timnya sudah benar. Ia merasa performa selama satu jam pertama sangat kuat, terutama di babak pertama ketika Rangers menggempur St Mirren. Baginya, tim yang menciptakan peluang lebih baik dan bermain lebih rapi memang pantas menang, namun perbaikan tetap wajib dilakukan sambil terus meraih hasil positif.
Arti Hasil Ini Jelang Old Firm di Ibrox
Dua kemenangan tipis ini menjadi modal sekaligus peringatan menjelang pertemuan Celtic dan Rangers di perempat final Piala Liga Skotlandia pada Minggu. Laga yang digelar di Ibrox itu akan berlangsung hanya beberapa hari setelah kedua tim sama-sama bermain keras namun tidak efisien di depan gawang.
Bagi Celtic, keunggulan lima poin di klasemen liga memberi ruang mental, tetapi tidak otomatis menjamin apa pun dalam laga sistem gugur. Format satu pertandingan tanpa laga ulang membuat siapa pun yang lebih tajam menyelesaikan peluang berhak melaju ke babak berikutnya. Karena itu, duel di Ibrox berpotensi berjalan ketat meski salah satu tim lebih dulu unggul.
Bagi Rangers, kemenangan dramatis atas St Mirren bisa menjadi suntikan kepercayaan diri yang penting. Gol telat dari pemain pengganti menunjukkan bahwa kekuatan bangku cadangan mereka tetap berfungsi ketika pertandingan berjalan alot, sebuah modal berharga untuk pertandingan berintensitas tinggi melawan rival sekota.
Konteks Lebih Luas: Dua Raksasa dengan Masalah Serupa
Menarik dicatat bahwa kedua tim menghadapi persoalan yang mirip pada pertandingan terakhirnya. Celtic mencatat xG 2,22 dan Rangers 2,13, namun keduanya hanya menang dengan selisih satu gol. Ini menggambarkan bahwa dominasi penguasaan bola dan penciptaan peluang belum sepenuhnya diterjemahkan menjadi hasil yang sepadan.
Pola semacam ini biasa terjadi pada tim-tim besar yang sering menghadapi lawan dengan pertahanan rapat. Lawan cenderung bermain bertahan, mengurangi ruang di kotak penalti, dan menggantungkan harapan pada serangan balik atau satu peluang emas. Hal ini membuat efisiensi penyelesaian akhir dan ketenangan di momen krusial menjadi penentu, bukan sekadar jumlah tembakan.
Jika kondisi ini berlanjut, bukan tidak mungkin laga Old Firm nanti juga diputuskan oleh satu momen kecil. Pertahanan yang disiplin, kualitas kiper saat menghadapi peluang satu lawan satu, serta kemampuan pemain pengganti memberi dampak instan akan menjadi faktor yang sama pentingnya seperti kekuatan lini serang.
Kemenangan empat beruntun Rangers di liga juga menunjukkan bahwa mereka mampu meraih hasil maksimal meski tak selalu tampil meyakinkan. Sebaliknya, Celtic punya catatan sempurna yang menandakan konsistensi mereka sejauh ini. Kombinasi itu menjadikan pertemuan Minggu sebagai ujian sesungguhnya bagi kedua tim.
Pada akhirnya, baik O’Neill maupun McInnes sama-sama membawa kemenangan ke pertemuan di Ibrox, tetapi keduanya juga membawa daftar pekerjaan rumah yang belum selesai. Celtic menang melalui gol perdana pemain mudanya, sementara Rangers diselamatkan aksi pemain pengganti di menit terakhir, dua cara berbeda untuk meraih tiga poin sekaligus gambaran betapa tipis jarak antara menang dan kehilangan poin.
Duel perempat final Piala Liga nanti akan menunjukkan tim mana yang paling cepat memperbaiki kelemahannya. Kemenangan tipis memang tetap dihitung sebagai kemenangan, tetapi seperti disiratkan O’Neill, hanya mereka yang mau berbenah yang bisa terus meraihnya ketika menghadapi lawan seberat Rangers.
