Pelatih Roma, Gian Piero Gasperini, menilai laga Roma vs Atalanta pada akhir pekan ini sebagai uji kekuatan bagi timnya. Pertandingan kontra mantan klubnya itu disebut akan menjadi tolak ukur sesungguhnya bagi ambisi Giallorossi di Serie A musim 2026-27. Roma sendiri memulai musim dengan sempurna setelah memenangkan dua pertandingan pembuka dengan skor identik 4-0.
Kemenangan telak atas Fiorentina dan Lecce membawa Roma bertengger di peringkat kedua klasemen sementara. Adapun posisi puncak untuk sementara ditempati Como setelah mereka mengalahkan Genoa pada Jumat lalu. Di sisi lain, Atalanta juga memulai liga dengan dua kemenangan atas Sassuolo dan Bologna, sekaligus memastikan tempat di fase liga Conference League.
Gasperini: Laga Lawan Atalanta adalah Uji Kekuatan
Menjelang laga kandang di Stadio Olimpico, Gasperini tidak menampik bahwa duel melawan Atalanta memiliki bobot tersendiri. Pelatih yang pernah menukangi Atalanta itu menegaskan pertandingan ini lebih dari sekadar ujian kedewasaan bagi pasukannya. “Lebih dari ujian kedewasaan, saya akan menyebutnya sebagai uji kekuatan,” ucap Gasperini dalam sesi jumpa pers jelang laga.
Gasperini juga mewaspadai kualitas lawan yang sedang berada dalam performa apik. Ia menilai Atalanta adalah tim yang memulai kompetisi dengan sangat baik dan layak diperhitungkan. “Kami menghadapi banyak tim hebat dalam 12 pertandingan awal. Kami menghadapi tim yang sangat berkualitas dan start-nya bagus. Ini laga yang layak untuk Liga Champions,” sambungnya.
Momentum positif di dua pekan pertama jelas membuat kepercayaan diri Roma meningkat. Namun, Gasperini enggan jemawa karena ia memahami betul karakter permainan Atalanta. Hasil laga ini akan menjadi bahan evaluasi awal seberapa jauh Roma mampu bersaing di papan atas musim ini.
Musim Panas yang Menyiksa di Bursa Transfer Roma
Selain membahas taktik, Gasperini juga membuka suara soal keterbatasan finansial Roma pada bursa transfer musim panas lalu. Ia mengakui kondisi keuangan klub tidak semulus yang dibayangkan banyak orang. Pembelian termahal Roma pada musim panas ini hanyalah Santiago Castro yang direkrut dari Bologna dengan nilai 35 juta euro.
“Pada bulan Juni, saya mengira masalah keuangan kami sudah selesai berkat uang dari hasil lolos ke Liga Champions,” ungkap Gasperini. Namun, asumsi tersebut langsung sirna ketika Roma mencoba mendatangkan Mason Greenwood dan Crysencio Summerville. “Saat kami mencoba merekrut Greenwood dan Summerville, saya menyadari bahwa ternyata tidak demikian,” tambahnya.
Gasperini menggambarkan musim panas tersebut sebagai periode yang menyiksa. Ia harus terus meninjau ulang rencana transfer dan melepas pemain yang antusias bergabung ke Roma akibat pembatasan batas gaji. “Manajemen sudah melakukan semua yang bisa dilakukan dalam batasan finansial. Bagaimanapun, penyesalan saya sudah terbayar,” pungkasnya.
Dampak bagi Ambisi Roma di Musim 2026-27
Start sempurna dengan dua kemenangan 4-0 jelas menjadi modal berharga bagi Roma. Meski begitu, jadwal awal yang langsung mempertemukan mereka dengan tim-tim kuat akan menjadi tantangan sesungguhnya. Hasil melawan Atalanta akan menjadi indikator awal apakah Roma mampu menjaga konsistensi sepanjang musim.
Keterbatasan finansial di bursa transfer juga berpotensi memengaruhi kedalaman skuad Roma. Dengan hanya Castro sebagai pembelian termahal, pergerakan Roma di pasar transfer tergolong minim. Kondisi ini membuat setiap hasil positif menjadi semakin bernilai, terutama karena mereka harus bersaing dengan klub-klub yang lebih leluasa belanja.
Bagi Atalanta, laga ini sama pentingnya untuk membuktikan diri sebagai pesaing serius musim ini. Kemenangan di kandang lawan akan memberi sinyal kuat kepada seluruh kompetitor Serie A. Sementara bagi Gasperini, mengalahkan mantan klubnya sendiri tentu memberikan kebanggaan tersendiri.
Pemain Kunci yang Wajib Dipantau
Roma: Donyell Malen
Donyell Malen menjadi senjata utama Roma pada awal musim ini. Pemain sayap asal Belanda itu telah mengoleksi 19 gol dalam 20 penampilan pertamanya di Serie A. Dalam sejarah kompetisi, hanya Gunnar Nordahl dan Jose Altafini yang mampu mencapai 20 gol hanya dalam 20 pertandingan.
Satu gol tambahan pada laga nanti akan membuat Malen sejajar dengan dua nama legendaris itu di buku sejarah Serie A. Untuk Roma, pencapaian tercepat sebelumnya dipegang oleh Pedro Manfredini. Manfredini menorehkan 20 gol dalam 26 laga pertamanya pada 1960, rekor yang bisa segera dilampaui Malen.
Atalanta: Lazar Samardzic
Di kubu Atalanta, Lazar Samardzic layak menjadi perhatian utama lini tengah Roma. Gelandang asal Serbia itu tercatat mencetak gol dalam enam musim Serie A terakhir secara beruntun dengan total 18 gol. Pada usia 24 tahun 188 hari, Samardzic menjadi gelandang termuda yang mencapai torehan tersebut sejak Lorenzo Pellegrini melakukannya di usia 24 tahun 177 hari pada Desember 2020.
Samardzic juga berpeluang membukukan rekor baru apabila mencatatkan assist dalam laga ini. Ia akan menjadi pemain termuda sejak 2004-05 yang menorehkan minimal satu gol dan satu assist di enam musim Serie A berbeda. Rekor tersebut sebelumnya dipegang Marco Benassi yang melakukannya di usia 24 tahun 207 hari.
Prediksi Roma vs Atalanta: Tuan Rumah Lebih Diunggulkan
Berdasarkan hitungan Opta, kemenangan Roma menjadi hasil yang paling mungkin terjadi pada laga ini. Roma mendapat probabilitas menang 54,8 persen, sementara peluang imbang dan kemenangan Atalanta masing-masing lebih kecil. Berikut rincian probabilitas dari Opta:
- Roma menang: 54,8%
- Imbang: 24,2%
- Atalanta menang: 21%
Prediksi kemenangan Roma tak lepas dari catatan pembuka musim yang langka. Dalam sejarah Serie A, hanya Inter pada 1933-34 dan Napoli pada 2020-21 yang memulai musim dengan minimal delapan gol dan tanpa kebobolan dalam dua laga pertama. Terakhir kali ada tim mencetak minimal sembilan gol tanpa kebobolan setelah tiga pekan adalah Juventus pada 1983-84.
Dari sisi pertahanan, Roma juga tampil solid karena baru menghadapi 16 tembakan di Serie A musim ini. Jumlah itu lebih sedikit daripada semua tim kecuali Juventus yang menghadapi 15 tembakan, serta sama dengan catatan Bologna. Sebaliknya, Atalanta telah menghadapi 38 tembakan. Hanya Frosinone (45) dan Cagliari (44) yang lebih banyak ditekan di liga.
Rekor Pertemuan: Tantangan Besar bagi Roma
Meski diunggulkan, Roma memiliki pekerjaan rumah besar ketika bersua Atalanta. Atalanta tidak pernah kalah dalam delapan pertemuan terakhir melawan Roma di Serie A, dengan catatan enam kemenangan dan dua hasil imbang. Itu merupakan rentetan tak terkalahkan terpanjang La Dea atas Giallorossi sepanjang sejarah kompetisi ini.
